Hari ini dia menelponku karena ada keperluan untuk membicarakan tentang suatu ilmu keuangan. Aku senang dia memulai inisiatif untuk menelpon ini. Rasanya tidak mungkin jika aku yang terus menerus menelponnya, aku seperti pengganggu saja jika selalu aku yang menelponnya. Sebagai perempuan tentu sudah secara alami senang didekati, bukan sebagai pihak yang mendekati. Oh, kembali ke telepon hari ini, kukira telepon hari ini akan memperbaiki beberapa hal yang kemarin terjadi (kemarin kami juga bertengkar karena masalah komunikasi). Dia menjelaskan kepadaku tentang ilmu keuangan tersebut, agak berjarak antara informasi satu dengan lainnya, sehingga banyak pertanyaan yang kuajukan, yang membuat dia menjadi agak gusar. Di akhir telepon dia seperti agak jengkel, karena ada pertanyaan yang kuulang, padahal aku sudah mengerti, hanya saja banyak bertanya. Aku menjadi sedih, apakah aku sebodoh itu? (Ini yang membuat aku ingin memukulkan kepalaku ke tembok tadi.) Mengapa tidak ada kasih sama sekali dalam proses dia menjelaskan ilmu keuangan tersebut? Apakah dia benar-benar mengasihiku? Sungguh aku takut jika aku menikahi orang yang salah dalam kehidupan agama katolik ini. Bagaimana nanti jika dia harus mengajari sang buah hati? Apakah akan seperti itu juga, marah-marah? Aku takut.
Monday, May 11, 2020
Nobody Genuinely Loves Me
Hari ini dia menelponku karena ada keperluan untuk membicarakan tentang suatu ilmu keuangan. Aku senang dia memulai inisiatif untuk menelpon ini. Rasanya tidak mungkin jika aku yang terus menerus menelponnya, aku seperti pengganggu saja jika selalu aku yang menelponnya. Sebagai perempuan tentu sudah secara alami senang didekati, bukan sebagai pihak yang mendekati. Oh, kembali ke telepon hari ini, kukira telepon hari ini akan memperbaiki beberapa hal yang kemarin terjadi (kemarin kami juga bertengkar karena masalah komunikasi). Dia menjelaskan kepadaku tentang ilmu keuangan tersebut, agak berjarak antara informasi satu dengan lainnya, sehingga banyak pertanyaan yang kuajukan, yang membuat dia menjadi agak gusar. Di akhir telepon dia seperti agak jengkel, karena ada pertanyaan yang kuulang, padahal aku sudah mengerti, hanya saja banyak bertanya. Aku menjadi sedih, apakah aku sebodoh itu? (Ini yang membuat aku ingin memukulkan kepalaku ke tembok tadi.) Mengapa tidak ada kasih sama sekali dalam proses dia menjelaskan ilmu keuangan tersebut? Apakah dia benar-benar mengasihiku? Sungguh aku takut jika aku menikahi orang yang salah dalam kehidupan agama katolik ini. Bagaimana nanti jika dia harus mengajari sang buah hati? Apakah akan seperti itu juga, marah-marah? Aku takut.
Sunday, November 23, 2014
Always Love Somebody as There is No Tomorrow
Terakhir kali aku bergalau saat Mendiang Mamiku berulangtahun tepat 6 bulan setelah kepergiannya. Kali ini aku kembali bergalau setelah kehilangan dirimu. Hmm, mungkin salah, lebih tepat bila kukatakan setelah aku memutuskan untuk melepaskan dirimu.
Thursday, January 16, 2014
Teh dan Keju di Siang Hari
This is a latepost. It happened on the independence day last year. I was lazy to go back to home too early after having a short ceremony at university.
Teh dan Keju di Siang Hari
"Kak, dua hari yang lalu aku ketemuan sama dia, Kak! Hehe.. Kan aku pulang naik kereta tuh, terus turun di stasiun dekat rumahnya. Haha seneng bgt deh. Pulangnya naik kereta lagi sambung ke rumah."
Kakak ikut gembira mendengarnya, sambil bertanya satu atau dua hal menanggapi ceritaku. Sejenak kami diam menikmati teh dan roti keju ala restoran Italia terkenal yang kami kunjungi. Tak lama kakak melontarkan suatu pertanyaan yg masih bertengger dengan baik di pikiranku,
"Dari satu sampai sepuluh, kalau kamu nilai, brapa nilai kamu sayang sama dia?"
"Sepuluh."
Jawabanku terlontar begitu saja bahkan tanpa perlu proses, tanpa memberikan jeda antara pertanyaan dan jawaban.
"Kamu sayang banget ya sama dia..baik banget ya dia?"
"Iya hehe"
"Setia gak?"
"Hmm sepertinya..hehe"
Aku tak mengerti mengapa rasanya mataku mulai tergenang membicarakan tentang betapa sayangnya aku terhadap dia kepada kakak. Yah yang perlu kuingat adalah aku sangat menyayanginya, mencintainya sepenuh hatiku. Semoga harapanku benar adanya seperti jawaban terakhir yang aku berikan pada kakak.
By the way, it has been more than a year for us. A year is not a short time. Spending this -not a short time- with him is a thing that I will never ever regret.
He may be not a romantic person, although I hope so. He may be a bit flat, but I am not. (And he usually protests about my unusual idea for our days. But, Man, believe it, you'll like my idea after doing it.)
I don't know, overall I just love him, love to spend time together with him.
Oh ya, I also love his family. I feel so comfortable being there. It's such a lovable family. Peace, funny, and fun. Finally I can feel the real family there. It is a thing that I have never had in my home.
For another year ahead, I hope we can have a better relationship, less miscommunication, more care and understanding for both of us. :)