Showing posts with label cinta. Show all posts
Showing posts with label cinta. Show all posts

Monday, May 11, 2020

Nobody Genuinely Loves Me

Halo, kembali lagi dengan saya yang selalu haus akan kasih sayang. Kasihan, ya. Aku menulis ini cuma sebagai pelampiasan aku saja, berharap suatu saat ada yang baca ini dan kuharap pembaca mengerti perasaan aku.

Menurutku dunia ini begitu menyedihkan. Sungguh, tumbuh di keluarga yang broken home membuat jiwaku tidak sehat. Aku yang usianya hampir seperempat abad ini masih sering menangis sendirian di kamar, berharap ada yang memeluk aku, menepuk-nepuk punggungku, menghiburku, menyemangati aku. Aku sampai di titik di mana aku agak kesulitan untuk menghibur diriku sendiri. Aku sungguh-sungguh hanya bisa bersedekap, membelai diriku sendiri, memeluk guling di ujung tembok. Tadinya aku hampir memukulkan kepalaku ke tembok (karena kupikir aku bodoh, maklum habis dimarahi karena bodoh), tapi aku merasa kasihan dengan kepalaku, ia sudah bekerja terlalu keras, ia tidak bersalah, aku harus menyayangi diriku sendiri, karena tidak ada lagi yang menyayangiku selain diriku sendiri. Semua senyuman dan kegembiraan yang terlihat di luar hanya topeng belaka, sebab untuk apa selalu menunjukkan kesedihan dan kesendirianku bukan? Toh, tidak ada yang peduli.

Mungkin aku memiliki trauma masa lalu, aku tidak tahu, tapi mungkin aku tahu. Aku tidak bisa mengharapkan kasih sayang dari siapapun. Tidak ayahku, dia tempramental, bertanya petunjuk arah saja dijawab dengan nada tinggi. - Dia hanya mempertanyakan kapan aku akan menikah, kapan dia akan menimang cucu. Ya, Tuhan, aku tidak tahu! - Tidak ibuku, dia sudah tiada, ya Tuhan sedih sekali, aku menangis kembali. Tidak kakakku, dia saja pergi meninggalkan aku di saat aku terpuruk semasa sekolah dan kuliah. Aku merasa tidak memiliki keluarga, tidak punya siapa-siapa. Kakek nenek sudah lama meninggal, aku tidak mengenal mereka. Om tante tinggal jauh dan sama sekali tidak ada kedekatan emosional denganku. Tidak juga sepupu, mereka semua sudah memiliki anak yang hampir seusia denganku. Semua ini terjadi karena aku lahir saat ayah dan ibu berusia 43 tahun. Dengan demikian aku menjadi yang jauh lebih muda di antara semua saudara sepantaran.

Mungkin tidak juga mengharapkan kasih sayang dari sahabat-sahabatku, mereka masing-masing sudah memiliki kesibukan dan zona keluarga yang nyaman serta bahagia. Mereka lebih nyaman untuk berkumpul bersama keluarga masing-masing daripada berkumpul bersamaku. Betapa beruntungnya mereka memiliki keluarga yang ramai dan hangat.

Satu yang mengejutkan, mungkin, sepertinya aku tidak dapat mengharapkan kasih sayang dari pacarku. Sepertinya dia juga tempramental. Apakah karena dia ada riwayat hipertensi? (Tapi aku pernah membaca tidak semua orang hipertensi menjadi tempramental, tergantung dari kecerdasan dalam pengelolaan emosi pribadi itu sendiri.) Belakangan ini aku banyak menangis karena sumber pengharapanku akan cinta kasih ini tidak seperti yang kuharapkan. Aku berharap komunikasi yang lancar setiap saat, penuh kasih, tekun, dan sabar. Tapi dia tidak begitu sabar terhadapku. Katanya kasih itu sabar. Aku jadi tidak yakin apakah dia benar-benar mengasihiku. Dia sendiri berkata bahwa kunci dari hubungan adalah komunikasi, tapi dia sendiri memutuskan untuk menunda komunikasi itu sendiri atau bahkan mengacaukan komunikasi itu dengan menghambat atau bertindak tidak sabar. Apakah ada yang salah dengan komunikasi via telepon? Mengapa harus menunda percakapan jika bisa dilakukan dengan telepon yang sudah canggih di era digital ini? Mengapa meluangkan waktu untuk menelponku begitu sulit? Apakah dia membenci suaraku? Mengapa meluangkan waktu untuk pesan singkat intensif juga sulit? Apakah aku tidak berharga atas waktumu? Di jaman komunikasi yang mudah ini mengapa dipersulit? Kalau dirunut permasalahan ku dengan dia sedari dulu selalu saja berkutat di komunikasi. Oh, sungguh ini berbahaya. Kunci mulai hilang, pintu menjadi sulit dibuka.

Dia tahu aku senang jika ditelepon olehnya. Tapi dia jarang melakukan itu. Ya, Tuhan, aku tidak minta macam-macam, hanya ditelepon saja aku sudah senang, karena aku bisa mengobrol dan membicarakan hariku padanya. Apakah begitu sulit untuk menelponku? Pernah suatu saat dia tiba-tiba menelponku di tengah hariku yang cukup suntuk, aku sungguh senang. Tapi ternyata dia menelpon hanya untuk koordinasi metode pembayaran promo. Setelah selesai, dia langsung mengakhiri telepon. Yah, sedih sekali ya. Aku kecewa karena berharap telepon yang menyenangkan darinya. Apakah aku salah mengharapkan itu? Apakah aku tidak boleh berharap agar aku tidak kecewa? Tapi apakah arti cinta tanpa harapan di dalamnya? Tidak ada harapan maka tidak ada cinta. Itu adalah kesatuan yang tidak terpisahkan. Apakah mungkin kau mengharapkan telepon dari orang yang tidak kau cintai? Tentu tidak, kan. Atau..haruskah aku mengharapkan telepon dari pria lain?

Hari ini dia menelponku karena ada keperluan untuk membicarakan tentang suatu ilmu keuangan. Aku senang dia memulai inisiatif untuk menelpon ini. Rasanya tidak mungkin jika aku yang terus menerus menelponnya, aku seperti pengganggu saja jika selalu aku yang menelponnya. Sebagai perempuan tentu sudah secara alami senang didekati, bukan sebagai pihak yang mendekati. Oh, kembali ke telepon hari ini, kukira telepon hari ini akan memperbaiki beberapa hal yang kemarin terjadi (kemarin kami juga bertengkar karena masalah komunikasi). Dia menjelaskan kepadaku tentang ilmu keuangan tersebut, agak berjarak antara informasi satu dengan lainnya, sehingga banyak pertanyaan yang kuajukan, yang membuat dia menjadi agak gusar. Di akhir telepon dia seperti agak jengkel, karena ada pertanyaan yang kuulang, padahal aku sudah mengerti, hanya saja banyak bertanya. Aku menjadi sedih, apakah aku sebodoh itu? (Ini yang membuat aku ingin memukulkan kepalaku ke tembok tadi.) Mengapa tidak ada kasih sama sekali dalam proses dia menjelaskan ilmu keuangan tersebut? Apakah dia benar-benar mengasihiku? Sungguh aku takut jika aku menikahi orang yang salah dalam kehidupan agama katolik ini. Bagaimana nanti jika dia harus mengajari sang buah hati? Apakah akan seperti itu juga, marah-marah? Aku takut.

Sesaat kemudian setelah menutup telepon, tangisku pecah. Mungkin sekitar 5-10 menit aku menangis sesenggukan, meringkuk di kasur. Semua memori burukku muncul kembali. Harapanku - bahwa ada orang yang mencintaiku dengan tulus - jatuh ke dasar jurang. Aku seperti dihempaskan. Orang yang kukasihi dan kuharapkan ternyata tidak begitu mengasihiku. Kepada siapa lagi aku dapat mengharapkan kasih? Aku tidak tahu. Mengapa kehidupan ini penuh kesendirian?

Sunday, November 23, 2014

Always Love Somebody as There is No Tomorrow


Terakhir kali aku bergalau saat Mendiang Mamiku berulangtahun tepat 6 bulan setelah kepergiannya. Kali ini aku kembali bergalau setelah kehilangan dirimu. Hmm, mungkin salah, lebih tepat bila kukatakan setelah aku memutuskan untuk melepaskan dirimu.

Ya, dirimu yang telah menemaniku sekitar 2 tahun lebih, terhitung dari kita mulai dekat. Kamu telah menemaniku melalui beragam peristiwa dalam hidupku. Senang dan sedih kubagi bersama dirimu. Kamu yang paling mengenal diriku selama beberapa tahun terakhir ini. Tidak Papi, tidak juga Cece, tidak juga teman-teman baikku. Mereka semua jauh, sibuk dengan urusannya masing-masing. Yang dikata orang akhir minggu adalah hari keluarga, bagiku akhir minggu adalah hari sendiri. Kamu terkadang bepergian bersama keluargamu, memiliki acara sendiri. Tapi sempat beberapa kali kamu mengajakku bergabung. Aku senang, aku merasakan hangatnya keluarga bersama dengan orang-orang tercintamu. Mereka menerima diriku dan mereka membuatku nyaman dan bahagia. Terima kasih kamu telah memberikan hal tersebut kepadaku.

Kamu juga menemaniku saat aku terjatuh sangat dalam, saat aku mengetahui bahwa Mami tidak memiliki harapan lagi. Kamu sudah terlalu sering melihat diriku menangis. Kamu mendengarkan setiap ceritaku tentang perkembangan Mami. Kamu sering menjenguk Mami, menemaniku di rumah sakit, menemaniku mengurus segala hal yang kamu mungkin tidak mengerti. Terima kasih atas segala waktu dan kehadiran yang telah kau berikan padaku.

Semua hal yang kau berikan padaku waktu itu begitu berarti dan aku tahu betapa sayangnya dirimu padaku. Tepat 4 hari sebelum Mami pergi, kondisi Mami sudah tidak jelas, tidak pasti. Namun, hari itu hari yang penting. Sepulang kuliah aku segera membeli cake dan lilin lalu kubawa ke kampusmu. Kejutan yang mungkin kecil, tapi bagiku itu penting, karena kamu orang yang kusayang, yang kutahu paling dekat dan menyayangiku saat itu.

Tiba hari itu. Satu-satunya orang yang telah hidup bersama-sama denganku selama hampir 19 tahun akhirnya meninggalkan diriku. Semua orang sibuk. Papi ditemani saudara-saudaranya. Cece ditemani sahabat-sahabatnya. Teman-temanku di kampus ternyata juga banyak yang datang, begitu pula teman-teman lamaku sewaktu sekolah. Aku senang, mereka jauh-jauh datang menghiburku dan memberi penghormatan terakhir pada orang yang telah melahirkan dan membesarkanku di dunia ini.

Kamu juga datang saat itu. Hari kedua kamu datang, aku begitu lega saat kamu datang. Kamu telah mengenal dekat Mami. Kamu datang bersama sahabat-sahabatku saat SMA. Hari ketiga, adalah hari yang penting, penutupan peti dan penghormatan terakhir sebelum dikremasi. Ini peristiwa yang paling berat di antara 3 hari rangkaian upacara. Teman-temanku yang masih berusia 19 tahun itu, sudah datang kemarin, jadi mereka tidak datang lagi hari ini-yang mana adalah hari Minggu, hari keluarga-. Aku butuh seseorang. Kucari dirimu. Kamu bilang kamu akan datang. Tapi kamu belum muncul. Di pertengahan upacara akhirnya kamu datang bersama kedua orangtuamu. Setelah upacara selesai akhirnya aku bisa bertemu dirimu lagi. Aku menangis sangat sesenggukan hari itu, hari yang begitu berat. Mamamu memeluk diriku. Aku masih terus menangis. Aku ingin memeluk dirimu. Mengapa kau tak kunjung memeluk diriku? Kamu hanya memandangku dalam jarak kira-kira 2 meter.

Acara berlanjut ke kremasi peti, saat rupa Mami tidak lagi ada. Cece menangis parah saat itu, tapi aku diam.

Usai kremasi, Cece ditenangkan oleh teman-temannya. Aku mencari dirimu. Tapi..kamu tidak dapat kutemukan..ku lihat handphone, kamu harus segera pulang karena depresi Mama kambuh. Aku mengerti.. Tapi satu hal yang paling kusesali darimu adalah mengapa kamu tidak memelukku saat aku begitu terpukul. Sampai saat ini itu adalah kesalahan terbesar dirimu yang entah kenapa tidak dapat kulupakan. Tentu bukan tipikal diriku untuk mengingat kesalahan orang. Aku duduk saja sendiri di seberang ruang, termenung, berharap dirimu di sampingku menemaniku melewati waktu yang rasanya begitu lambat.

Waktu berlalu. Untuk pertama kalinya usiaku genap bertambah tanpa disaksikan Mami. Sedih. Tahun lalu begitu meriah, ada Mami, Cece, dan kamu. Kita makan bersama di suatu restoran Italia yang unik. Tahun ini hanya aku dan Cece. Aku tidak tahu di mana dirimu. Tidak ada kejutan darimu seperti tahun lalu. Bungkusan kertas kado pun tidak aku dapat darimu kali ini. Hadiah terakhir darimu genap setahun yang lalu. Kado natalku pun tidak kau balas, meski aku sangat antusias menunggunya darimu.

Kondisi keuangan keluargaku memburuk. Semua terkuras pada pengobatan Mami kemarin. Aku tidak lagi mendapat uang jajan. Cece mengharuskan diriku mencari penghasilan sendiri. Aku pun berjuang, tabunganku yang telah lama kukumpulkan kian menipis, sampai akhirnya aku mendapatkan pekerjaan. Aku menjadi pelit waktu dan tenaga. Aku masih ingin mengembangkan diriku sebelum aku sibuk dengan pekerjaan. Aku juga ingin meningkatkan nilai akademik setelah kemarin turun drastis karena peristiwa Mami. Waktu dan tenaga menjadi sangat tipis dan aku kesulitan membaginya dengan dirimu. Ya, dengan dirimu di sana. Seringkali kita hanya dapat bertemu bila aku mampir ke rumahmu-yang letaknya jauh dari daerahku. Mungkin kita bisa bertemu lebih sering bila kamu yang mampir ke daerahku.

Tidak lama kemudian aku mulai merasa lelah. Aku lelah karena aku berjuang terlalu banyak. Aku lelah kita hanya sering bertemu di rumahmu. Aku lelah karena di tengah kesempatanku mengembangkan diri dan mencari uang, tidak ada yang memperhatikan diriku. Aku teringat kesalahan terbesarmu tidak memeluk diriku dan tidak hadir saat aku membutuhkanmu. Aku kecewa saat momen penting bagiku tidak kau hargai. Aku mulai mencari kekurangan hubungan kita yang selama ini tidak terlihat olehku. Aku merasa kita tidak berkembang bersama dan datar. Aku merasa kamu kurang menghargai diriku.

Aku tidak tahu apakah memang kamu yang berubah atau memang sifat alamiah dirimu yang demikian. Yang pasti, semua ini terbatas oleh kondisi, waktu dan tempat. Waktu yang kumiliki kini tidak lagi banyak, mungkin juga dirimu. Tempat di antara kita juga tidak dekat lagi seperti dulu. Kondisiku pun kini sedang sulit dan aku masih lebih mencintai diriku sendiri, aku ingin berkembang dan mengolah segala hal yang ada pada diriku. Hatiku padamu pun berkurang perlahan.

Aku jujur padamu, kuceritakan semua itu. Kukatakan hubungan kita cukup saja tapi saat itu kamu tidak mau. Kamu bilang kamu masih menyayangiku dan memang seperti itulah caramu menyayangiku, hanya saja aku tidak mampu melihat dan menyadarinya, seperti aku belum mengenal dirimu, dan cara cuekmu dalam menyayangiku. Mungkin dulu caramu tidak masalah bagiku, tapi dengan segala situasi yang berbeda, caramu kini tidak lagi sesuai dengan diriku.

Kemarin kamu datang. Kamu memberi kejutan seusai aku kuliah. Kamu meminta bantuan beberapa temanku di kampus. Aku sangat terkejut. Kamu memberikan video buatanmu. Kamu muncul tiba-tiba, memeluk diriku dari belakang dan memberikan aku mawar merah segar. Aku tidak dapat berkata-kata. Aku tidak tahu harus senang atau kecewa. Video dan mawar merah darimu memang pernah kuharapkan darimu. Tapi baru kudapatkan saat aku sudah berhenti berharap. Kejutan dan segala jerih payahmu pernah kuharapkan dulu. Tapi baru kudapatkan saat hatiku padamu sudah tidak sepenuh dulu. Bagiku semuanya terlambat. Aku tahu butuh usaha keras darimu membuat video itu, dan hal-hal lainnya, sampai padaku kemarin. Sayang itu semua tidak dapat mengembalikan hatiku padamu seperti sedia kala. Aku hanya dapat berterimakasih atas usaha yang telah kaulakukan. Menurutku kamu sukses membuatku terkejut.

Ternyata kamu juga datang untuk memastikan kelanjutan hubungan kita. Aku berpikir lama, penuh bimbang dan pertimbangan yang banyak dan tak kunjung usai. Kamu terus mengungkit kenangan berarti yang telah kita lalui bersama. Namun hati sudah berkata lain, dengan beratpun aku memilih untuk menyudahi hubungan kita. Aku sedih, kamu sedih. Aku menangis banyak hingga kurasa kepala dan leherku sakit. Aku memang masih ada hati terhadap kamu, tapi tidak lagi sepenuh dulu. Bila hubungan dilanjutkan tentu akan serasa dipaksa, ini akan lebih menyakitkan. Jadi kita mengakhiri ini semua dengan masih memiliki rasa satu sama lain, ini juga menyakitkan.

Meskipun begitu, aku cukup yakin dengan keputusanku ini karena beberapa teman dan orang dekatku mendukung keputusanku. Katanya, aku berhak bahagia, aku sebaiknya membahagiakan diriku sendiri baru bisa membahagiakan orang lain.
Kamu, sadar tidak, sebelumnya aku pernah menulis hal tentang hubungan kita. Aku menulis pada tanggal 2 Januari 2014 di sini.

Begitulah hubungan kita berakhir. Semoga kamu mendapatkan yang lebih baik dari diriku, sayangilah dia dengan sepenuh hatimu, setotal mungkin, seakan tidak ada hari esok.

_Always love somebody as there’s no tomorrow.

Thursday, July 17, 2014

Pengorbanan dan Usaha dibutuhkan Saat Hidup Mulai Tidak Pasti

Banyak yang terjadi setelah tulisan terakhirku tentang mentari yang tak kunjung bersinar. Ternyata tulisan terakhirku sebelum ini adalah 19 hari sebelum Mami pergi untuk selamanya.

Tidak sedikit yang mau kuceritakan di sini, kelanjutan kehidupanku yang berubah, pindah rumah, hubunganku dengan pacarku (yang semakin baik, aku senang sekali), sahabat-sahabatku, Papi, Cece, dan lainnya.

Kuceritakan yang paling utama dan merupakan titik terendah seumur hidupku. Ini tentang kepergian Mami.

Kira-kira ada sekitar 3 bulan lebih aku bertahan dengan keadaan terdesak dan ketidakpastian. Aku ingin terus melanjutkan kuliahku dengan segala aktifitas kepanitiaan yang kusenangi. Tapi Cece mengusulkan agar aku cuti kuliah. Di kampusku, cuti kuliah minimal 1 tahun, dan  itu berarti aku akan tertinggal dari teman-temanku dan lingkungan yang sudah kusukai. Cece tentu cukup bijak dengan usul itu karena tidak ada orang yang dapat diandalkan untuk mengurus Mami yang ternyata kankernya mulai kembali. Papi di luar kota. Cece harus tetap bekerja karena segala kebutuhan berpasak di sana. Suster atau pembantu terlalu mahal untuk kondisi seperti ini. Aku pikir sangat sayang mengorbankan 1 tahun, aku merasa masih sanggup melakukan kuliah dan mengurus Mami di saat bersamaan meski kuliahku cukup sulit dan jarak kampus ke rumah yang cukup jauh.

Ya, dalam sekitar 3 bulan lebih itu aku berjuang, aku merasa cukup terkuras di masa itu. Selama itu pun aku hampir selalu terlambat menghadiri kelas maupun ujian karena aku lebih memilih untuk memberikan waktu kepada Mami. Semua selalu kulakukan terburu-buru seperti tugas, belajar, perjalanan. Begitu usai kelas jika bisa aku langsung pulang, tidak bersantai bersama teman lagi. Ongkos perjalanan jadi lebih mahal karena aku memilih ojeg-kereta-ojeg daripada angkot-kereta-angkot seperti biasanya. Di kelas aku menjadi sering tertidur karena kelelahan. Bila bisa bolos, aku akan bolos untuk menemani Mami di rumah. Lalu aku titip absen kepada teman, pinjam dan menyalin catatan tanpa begitu memahami isinya.

Ada satu mata kuliah berupa laboratorium yang hukumnya wajib hadir 100%. Sebelumnya, aku tidak pernah menggubris keberadaan peraturan itu. Namun setelah kejadian ini aku menjadi tidak menyukai peraturan tersebut. Tahu tidak, betapa sulitnya meminta izin kepada seorang dosen untuk tidak mengikuti laboratorium karena kondisi Mami yang naik turun dan perlu dijaga. Aku dihadapkan pada pilihan dan kondisi yang sulit, meninggalkan Mami yang kondisinya tidak dapat diprediksi atau mengulang kembali laboratorium selama 6 bulan di tahun depan. Ya, itu saja pilihannya. Aku kesal, apakah peraturan laboratorium berhak menomorduakan nyawa seseorang? Bagaimana mungkin aku membiarkan Mami yang kondisinya tidak pasti untuk berada di rumah sendirian? Apakah dosen tersebut sedang tidak menggunakan hatinya? Aku bernegosiasi cukup lama dengan dosen itu, memohon dan memohon saja bagai orang tak berdaya. Mungkin dia pikir aku bermain-main. Yang benar saja! Aku tidak segila itu.

Akhirnya aku memenangkan negosiasi alot itu. Ya, terima kasih kepada Mami karena bakat negosiasinya menurun kepadaku. Tidak hanya negosiasi itu dan dengan dosen itu saja. Ada satu kejadian saat aku terpaksa tidak ikut ujian mata kuliah laboratorium itu juga karena kondisi Mami yang tiba-tiba kritis. Rasanya aku tidak ingin mengikuti semua ujian semester itu. Aku tidak bisa belajar, pikiranku terganggu dan ragaku tidak bisa menurut. Tapi aku masih berusaha menyelesaikan semester itu. Aku tetap berusaha berkonsentrasi belajar untuk ujian di hari-hari berikutnya tanpa menyadari bahwa ujian susulan harus dilakukan maksimal 3 hari setelah ujian sebenarnya. Akhirnya aku harus bernegosiasi kembali dengan dosen. Dosen yang ini berbeda dengan dosen sebelumnya. Dosen yang ini cukup pengertian dan cerdik. Ya, dia juga mengira aku main-main karena tidak menyadari peraturan-maksimal-3-hari tersebut. Dia berkata tidak akan memberi aku ujian susulan karena aku tidak menaati peraturan dan seolah aku seperti berbuat seenaknya. Aku tentu tidak menerima penilaian tersebut, aku berani menegaskan padanya bahwa aku tidak menerima penilaiannya terhadap diriku. Lalu ia meminta bukti berupa surat dokter bahwa Mami masuk rumah sakit. Setelah kuberikan barulah ia percaya dan menyetujui untuk memberikan ujian susulanku.

Ujian susulan itu dijanjikan jauh setelah rangkaian ujian selesai karena sang dosen tidak ada di tempat dan karena satu atau beberapa hal lainnya. Bagaimana dengan rangkaian ujian yang kulalui? Yah, seoptimal mungkin, semampu dan semaksimal yang dapat kuusahakan. Masih dengan keadaan yang sama, bolak-balik rumah sakit-kampus, tidur di rumah sendiri atau di rumah sakit, terlambat menghadiri ujian, belajar di rumah sakit sambil menjaga Mami, dan lain sebagainya.

Satu hal yang paling-tidak-pernah-kusesali adalah saat aku rela menyempatkan diri sesempat mungkin dari rumah lalu pergi melihat Mami di rumah sakit (arah rumah sakit dan kampusku berlawanan dan rumah sakit itu cukup jauh untuk diriku yang berkendaraan umum) meski hanya sebentar, yang penting aku bisa melihat senyum Mami saat aku datang, menanyakan kabarnya sebentar, mengurusinya sebentar. Setelah itu baru aku ke kampus, kembali ke arah rumah, untuk ke stasiun naik kereta. Begitu usai segala kelas, aku segera pulang dan ke rumah sakit melihat Mami lagi. Bila ada tugas yang sangat penting aku terpaksa pulang ke rumah larut setelah melihat Mami untuk mengerjakannya di rumah. Bila tidak ada, aku akan tidur di rumah sakit dan bersiap berangkat ke kampus dari rumah sakit untuk keesokan harinya. Meski Mami menyuruhku pulang saja agar aku tidak kelelahan, aku tidak mau dengar. Yang terpenting aku bisa menghabiskan waktuku di sisi Mami. Aku merasa itu penting karena aku tidak tahu kapan keadaan tidak seperti ini lagi. Aku ingin ada saat hanya aku yang dapat diharapkannya.

Begitulah seterusnya selama sekitar 3 bulan lebih, rutinitasku berubah mendadak, aku tidak terlalu mengurus diriku sendiri seperti wanita biasa mengurus dirinya. Aku menjadi sangat pelit terhadap waktu jika bukan untuk Mami.

Thursday, January 2, 2014

Can you touch my heart, again?

   Pernahkah kau merasa kosong?
   Suatu saat di mana kau sangat membutuhkan kehadiran seseorang di sampingmu hanya untuk memastikan bahwa perasaannya masih sama seperti dulu, masih menyayangi, memastikan bahwa perasaanmu baik-baik saja. Menghibur dirimu dengan kalimat-kalimat penenang seperti yang dulu sering dilakukan. Mengatakan bahwa kau adalah pilihan yang tepat.
Setiap saat tidak selalu hanya untuk bercanda, tertawa gembira. Hati juga perlu disentuh, didamaikan, dicairkan. Jangan pikir itu manja atau cengeng. Percayalah, itu penting. Karena pada dasarnya setiap manusia memiliki perasaan, memiliki hati, yang sangat rapuh. Perlu diteguhkan berkali-kali. Dipoles, dipelitur, dijaga dengan baik, penuh kasih sayang. Wajah mungkin saja tersenyum, tapi hati tahu persis kekosongan yang sedang terjadi.
Tahu apa yang terjadi saat hati terasa kosong? Kau akan menangis. Berlebihan mungkin. Tapi memang itu kenyataannya kalau mencoba bertahan dalam suatu keadaan yang tidak jelas, tanpa kepastian. Kau hanya bisa bertanya-tanya, apakah orang itu masih menyayangi, peduli, dan mengingatmu. Apakah orang itu hanya mementingkan yang tampak pada mata saja, tanpa melibatkan perasaan? Lelaki mungkin identik dengan mata, perempuan identik dengan perasaan. Berbeda, tapi inilah titik saling melengkapinya.
Menurut kebutuhan psikologi, pada umumnya perempuan selalu membututhkan perasaan aman, nyaman, dicintai, diperhatikan, dan dihibur. Perempuan dilahirkan seperti demikian, apalagi bagi seorang yang besar tanpa kasih sayang dari ayahnya.
Timbal balik. Segalanya harus dua arah. Komunikasi yang baik. Saling melengkapi. Membalas kasih sayang.
Aku tidak tahu apa saja yang kau butuhkan. Kasih sayang sudah diberikan secara total. Perhatian, waktu, dan ingatan juga sudah dibagikan dan secara fisik pun aku ada di sampingmu. Tapi apakah itu semua berarti untukmu? Aku tak pernah melihat rasa syukur darimu akan semua itu. Aku jarang melihat balasan rasa sayangmu untukku. Bahkan seringkali kau lupa atau merasa terbebani saat aku meminta hal-hal sederhana, yang bukan untuk kebaikanku, tapi untuk kebaikan bersama. Apakah sulit? Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku? Apakah aku berarti untukmu?
Tengok sekitarmu, mereka bergandengan tangan dengan bahagia.
Apakah kau demikian?
Mungkin kau merasa risih karena aku seringkali mempertanyakan perasaanmu terhadapku. Tapi sewajarnya, kata-kata sayang akan terlontar dengan sendirinya bila seseorang sungguh menyayangi kekasihnya. Tanpa perlu diminta, tanpa perlu ditanya.
Untuk apa malu? Kekasihmu adalah orang yang kau pilih untuk jalan berdampingan denganmu, menemanimu. Kalau kau malu untuk sekedar gandeng atau mengucapkan cinta, berarti kau malu akan pilihanmu sendiri. Jangan menyesal di kemudian hari bila orang itu telah pergi. Kebanyakan orang menyesal karena terlambat mengucapkan atau menunjukkan kasih sayangnya kepada orang yang dicintainya.
Coba pikir baik-baik.
Apa yang belum kau berikan?
Jangan pernah berpikir tentang apa yang kau dapatkan atau yang orang lain berikan untukmu sebab seseorang akan mendapatkan bila ia mau memberi.
Semoga kau mengerti dan menanggapi maksudku.

.
Dear.. I'm still loving you.
Can you touch my heart, again?

Saturday, March 2, 2013

Sepenggal Kalimat untuk Perayaan Kita


Kau selalu menjadi titik fokus mataku,
Suaramu menjadi batas frekuensi pendengaranku,
Aroma dirimu menjadi oksigen bagi paru-paruku,
Sentuhanmu merupakan epidermis bagi kulitku,
Hanya bersama dirimu ku mampu mengecap pahit manisnya perasaan ini.
Perasaan memilikimu dan menyayangimu dengan tulus.
Aku tidak tahu nama perasaan itu.
Tidak ada satupun buku yang menuangkannya ke dalam standar kompetensi.
Namun, bersamamu aku kini memahaminya.
Sempurna.