Showing posts with label love. Show all posts
Showing posts with label love. Show all posts

Monday, May 11, 2020

Nobody Genuinely Loves Me

Halo, kembali lagi dengan saya yang selalu haus akan kasih sayang. Kasihan, ya. Aku menulis ini cuma sebagai pelampiasan aku saja, berharap suatu saat ada yang baca ini dan kuharap pembaca mengerti perasaan aku.

Menurutku dunia ini begitu menyedihkan. Sungguh, tumbuh di keluarga yang broken home membuat jiwaku tidak sehat. Aku yang usianya hampir seperempat abad ini masih sering menangis sendirian di kamar, berharap ada yang memeluk aku, menepuk-nepuk punggungku, menghiburku, menyemangati aku. Aku sampai di titik di mana aku agak kesulitan untuk menghibur diriku sendiri. Aku sungguh-sungguh hanya bisa bersedekap, membelai diriku sendiri, memeluk guling di ujung tembok. Tadinya aku hampir memukulkan kepalaku ke tembok (karena kupikir aku bodoh, maklum habis dimarahi karena bodoh), tapi aku merasa kasihan dengan kepalaku, ia sudah bekerja terlalu keras, ia tidak bersalah, aku harus menyayangi diriku sendiri, karena tidak ada lagi yang menyayangiku selain diriku sendiri. Semua senyuman dan kegembiraan yang terlihat di luar hanya topeng belaka, sebab untuk apa selalu menunjukkan kesedihan dan kesendirianku bukan? Toh, tidak ada yang peduli.

Mungkin aku memiliki trauma masa lalu, aku tidak tahu, tapi mungkin aku tahu. Aku tidak bisa mengharapkan kasih sayang dari siapapun. Tidak ayahku, dia tempramental, bertanya petunjuk arah saja dijawab dengan nada tinggi. - Dia hanya mempertanyakan kapan aku akan menikah, kapan dia akan menimang cucu. Ya, Tuhan, aku tidak tahu! - Tidak ibuku, dia sudah tiada, ya Tuhan sedih sekali, aku menangis kembali. Tidak kakakku, dia saja pergi meninggalkan aku di saat aku terpuruk semasa sekolah dan kuliah. Aku merasa tidak memiliki keluarga, tidak punya siapa-siapa. Kakek nenek sudah lama meninggal, aku tidak mengenal mereka. Om tante tinggal jauh dan sama sekali tidak ada kedekatan emosional denganku. Tidak juga sepupu, mereka semua sudah memiliki anak yang hampir seusia denganku. Semua ini terjadi karena aku lahir saat ayah dan ibu berusia 43 tahun. Dengan demikian aku menjadi yang jauh lebih muda di antara semua saudara sepantaran.

Mungkin tidak juga mengharapkan kasih sayang dari sahabat-sahabatku, mereka masing-masing sudah memiliki kesibukan dan zona keluarga yang nyaman serta bahagia. Mereka lebih nyaman untuk berkumpul bersama keluarga masing-masing daripada berkumpul bersamaku. Betapa beruntungnya mereka memiliki keluarga yang ramai dan hangat.

Satu yang mengejutkan, mungkin, sepertinya aku tidak dapat mengharapkan kasih sayang dari pacarku. Sepertinya dia juga tempramental. Apakah karena dia ada riwayat hipertensi? (Tapi aku pernah membaca tidak semua orang hipertensi menjadi tempramental, tergantung dari kecerdasan dalam pengelolaan emosi pribadi itu sendiri.) Belakangan ini aku banyak menangis karena sumber pengharapanku akan cinta kasih ini tidak seperti yang kuharapkan. Aku berharap komunikasi yang lancar setiap saat, penuh kasih, tekun, dan sabar. Tapi dia tidak begitu sabar terhadapku. Katanya kasih itu sabar. Aku jadi tidak yakin apakah dia benar-benar mengasihiku. Dia sendiri berkata bahwa kunci dari hubungan adalah komunikasi, tapi dia sendiri memutuskan untuk menunda komunikasi itu sendiri atau bahkan mengacaukan komunikasi itu dengan menghambat atau bertindak tidak sabar. Apakah ada yang salah dengan komunikasi via telepon? Mengapa harus menunda percakapan jika bisa dilakukan dengan telepon yang sudah canggih di era digital ini? Mengapa meluangkan waktu untuk menelponku begitu sulit? Apakah dia membenci suaraku? Mengapa meluangkan waktu untuk pesan singkat intensif juga sulit? Apakah aku tidak berharga atas waktumu? Di jaman komunikasi yang mudah ini mengapa dipersulit? Kalau dirunut permasalahan ku dengan dia sedari dulu selalu saja berkutat di komunikasi. Oh, sungguh ini berbahaya. Kunci mulai hilang, pintu menjadi sulit dibuka.

Dia tahu aku senang jika ditelepon olehnya. Tapi dia jarang melakukan itu. Ya, Tuhan, aku tidak minta macam-macam, hanya ditelepon saja aku sudah senang, karena aku bisa mengobrol dan membicarakan hariku padanya. Apakah begitu sulit untuk menelponku? Pernah suatu saat dia tiba-tiba menelponku di tengah hariku yang cukup suntuk, aku sungguh senang. Tapi ternyata dia menelpon hanya untuk koordinasi metode pembayaran promo. Setelah selesai, dia langsung mengakhiri telepon. Yah, sedih sekali ya. Aku kecewa karena berharap telepon yang menyenangkan darinya. Apakah aku salah mengharapkan itu? Apakah aku tidak boleh berharap agar aku tidak kecewa? Tapi apakah arti cinta tanpa harapan di dalamnya? Tidak ada harapan maka tidak ada cinta. Itu adalah kesatuan yang tidak terpisahkan. Apakah mungkin kau mengharapkan telepon dari orang yang tidak kau cintai? Tentu tidak, kan. Atau..haruskah aku mengharapkan telepon dari pria lain?

Hari ini dia menelponku karena ada keperluan untuk membicarakan tentang suatu ilmu keuangan. Aku senang dia memulai inisiatif untuk menelpon ini. Rasanya tidak mungkin jika aku yang terus menerus menelponnya, aku seperti pengganggu saja jika selalu aku yang menelponnya. Sebagai perempuan tentu sudah secara alami senang didekati, bukan sebagai pihak yang mendekati. Oh, kembali ke telepon hari ini, kukira telepon hari ini akan memperbaiki beberapa hal yang kemarin terjadi (kemarin kami juga bertengkar karena masalah komunikasi). Dia menjelaskan kepadaku tentang ilmu keuangan tersebut, agak berjarak antara informasi satu dengan lainnya, sehingga banyak pertanyaan yang kuajukan, yang membuat dia menjadi agak gusar. Di akhir telepon dia seperti agak jengkel, karena ada pertanyaan yang kuulang, padahal aku sudah mengerti, hanya saja banyak bertanya. Aku menjadi sedih, apakah aku sebodoh itu? (Ini yang membuat aku ingin memukulkan kepalaku ke tembok tadi.) Mengapa tidak ada kasih sama sekali dalam proses dia menjelaskan ilmu keuangan tersebut? Apakah dia benar-benar mengasihiku? Sungguh aku takut jika aku menikahi orang yang salah dalam kehidupan agama katolik ini. Bagaimana nanti jika dia harus mengajari sang buah hati? Apakah akan seperti itu juga, marah-marah? Aku takut.

Sesaat kemudian setelah menutup telepon, tangisku pecah. Mungkin sekitar 5-10 menit aku menangis sesenggukan, meringkuk di kasur. Semua memori burukku muncul kembali. Harapanku - bahwa ada orang yang mencintaiku dengan tulus - jatuh ke dasar jurang. Aku seperti dihempaskan. Orang yang kukasihi dan kuharapkan ternyata tidak begitu mengasihiku. Kepada siapa lagi aku dapat mengharapkan kasih? Aku tidak tahu. Mengapa kehidupan ini penuh kesendirian?

Saturday, December 27, 2014

Love Is About Letting Go

When you love someone, you tend to have him/her by your side to spend time together and keep caring each other. Having a joyful moment with people you love becomes an important thing. You do not want to lose them at all.

There is a saying, "Love is about letting go." I did not believe it. How can you love someone when you do not have them around you? It seems like that nature tries to teach me about that. I passed through hard times to understand and to feel the meaning of that saying.

When I was not letting go, I watched Mom cried in pain. She suffered a lot and that made me sad. I wanted it to stop so Mom would not suffer at all. Begging God for miracles was no longer possible. Then I changed my prayer. I told God to end her suffer. But that means I had to let her go because there was nothing left to do to heal her. It took time. Quite a long time till I told God that I let her go. No longer than that, she passed away. Hearing that gave me pain. I cried for losing her. But I was also relieved cause God heared me, she left the pain and she would not suffer anymore. It has finished. She is happy now. I finally let her go because I love her, I want her to be happy up there.

Another kind of letting go is when I saw my Dad feels happy and complete. He has worked too hard and he needs someone to take care of him. It was sad to see him live in a loneliness. He found someone but it was hard for me to see that she would replace Mom. Later I realized that Dad seemed to be so happy being with her. I was also happy seeing that. There would be someone to take care of him, to cook, and to give him love there. It was so nice to see him happy like that because I love him. So I let him go with her.

Now, what have you learned about letting go? Have you ever let go someone you love? It sure will cost pain but the pain will go as you see the one you love feels happy.

If you truly love someone, you will do anything just to see them happy, even letting go.

Sunday, September 14, 2014

No More Gift to be Given



Since my Mom has gone, I hate loneliness so much, especially when I’m having my PMS (Pra Menstrual Syndrome). I used to have a physical PMS, not the emotional one. It’s such a fluctuation of hormones in my body, but you should believe me, this one hurts so much. I can just cry by a simple sad thing or by remembering my Mom. I write the blue feelings here.


I still feel close to Mom, it feels like yesterday. Time flies, it’s almost 6 months. It means that it is also almost her birthday. I remember last year in these days I was thinking what gift to give to Mom. I was so happy just to buy nice things for Mom. I couldn’t wait till the day come. I had prepared everything well, I wrapped her gift sweetly with a letter inside it. I decided to buy mom a new lipstick because she was always proud with one of her expensive lipstick that had been bought about 10 years ago. She was funny, she was proud for simple unnecessary thing. That makes Mom sometimes funny to me.


This month, I look at the calendar and see her name on the box of 24. I feel sad. So do my sister. There are no more gifts to be thought about, to be brought, to be wrapped, and to be given. No more moment to be waited, such as to see her surprised, laugh, pretending not knowing, and other unexpected things.
...

So, I cry, cry so hard.




Ps. you may think that I am too melancholic or weak. It’s okay.

We had lived together for about 19 years, the last 10 years we spent just for both of us in a roof. How can I not feel losing her?
 

Friday, September 5, 2014

Don't you ever regret,

I find this in my old files, it was written about two years ago, when I was not understand so much things.

28.08.12
I wanna tell you…
There is a girl. She is always cheerful. You can see her smile everyday and you do not need to pay for that. She is the smiling girl. At the first time, you might think that she is a taciturn girl. But when you step closer, knowing her more, actually she is a friendly girl. She likes joking and laughs a lot. There is no any day without her laugh.

Who knows if a girl like her is having a lot of problems in her life?

She has no wonderful family. She is a broken home child. Her family almost broke. Her father no longer loves her and her mother acts like the Queen. Only her sister who left and loves her so much. Despite, she loves her father and mother so much and prays for them every night. She also does that to her sister.

She is lovable. She cares. She loves children and does a lot of social activity. She helps children who are inadequate of education and love. She always thinks that she has almost the same fate as them. But she does not want that happen continuously. She shares her thoughts and love to them. By doing so, she gets more values of life and also love too.

She is optimistic. Her motto of life is “everything is possible”. She believes that dreams can come true. She has ever experienced it. She is hardworking and having a bunch of dreams.

~*~



Some things that I wrote are true till now and some things are so different now.
She is still the smiling girl. Yes, she likes joking so much. She still cares to everyone around her.
But she has no abandoning father and bossy mother anymore.
I am 19 and now I understand that people must try to see the other perspective to understand a problem. I tried it and I figured out that Daddy is actually loving me but he has a different way to express it. I figured out that Mommy loves me too much that she always wants the best for me so she dictates me everything which looks best from her sight.

If you have the same thought as I thought about two years ago, you should believe me now that our parents always love their children. They might be just have not found the right way to deliver their love to you. You should respect them. They just try so hard to make you have the best food, the best education, the best future, and others. It they ask you to hear them or to do a favour, just do it. They have just done a hard day and ask a help to you. If they ask your time just give some for them. Don't you ever regret on the other day, when someday they must leave you, then you won't get the chance to do a favour for them anymore. You won't get the chance to spend time together with them anymore.
Do the best for them while you can do. Do the best as they try to give the best for you.
Seeing their smile is a wonderful gift. Trust me.

Thursday, January 16, 2014

Teh dan Keju di Siang Hari

This is a latepost. It happened on the independence day last year. I was lazy to go back to home too early after having a short ceremony at university.

Teh dan Keju di Siang Hari

"Kak, dua hari yang lalu aku ketemuan sama dia, Kak! Hehe.. Kan aku pulang naik kereta tuh, terus turun di stasiun dekat rumahnya. Haha seneng bgt deh. Pulangnya naik kereta lagi sambung ke rumah."

Kakak ikut gembira mendengarnya, sambil bertanya satu atau dua hal menanggapi ceritaku. Sejenak kami diam menikmati teh dan roti keju ala restoran Italia terkenal yang kami kunjungi. Tak lama kakak melontarkan suatu pertanyaan yg masih bertengger dengan baik di pikiranku,

"Dari satu sampai sepuluh, kalau kamu nilai, brapa nilai kamu sayang sama dia?"
"Sepuluh."
Jawabanku terlontar begitu saja bahkan tanpa perlu proses, tanpa memberikan jeda antara pertanyaan dan jawaban.

"Kamu sayang banget ya sama dia..baik banget ya dia?"
"Iya hehe"
"Setia gak?"
"Hmm sepertinya..hehe"

Aku tak mengerti mengapa rasanya mataku mulai tergenang membicarakan tentang betapa sayangnya aku terhadap dia kepada kakak. Yah yang perlu kuingat adalah aku sangat menyayanginya, mencintainya sepenuh hatiku. Semoga harapanku benar adanya seperti jawaban terakhir yang aku berikan pada kakak.

By the way, it has been more than a year for us. A year is not a short time. Spending this -not a short time- with him is a thing that I will never ever regret.
He may be not a romantic person, although I hope so. He may be a bit flat, but I am not. (And he usually protests about my unusual idea for our days. But, Man, believe it, you'll like my idea after doing it.)
I don't know, overall I just love him, love to spend time together with him.
Oh ya, I also love his family. I feel so comfortable being there. It's such a lovable family. Peace, funny, and fun. Finally I can feel the real family there. It is a thing that I have never had in my home.

For another year ahead, I hope we can have a better relationship, less miscommunication, more care and understanding for both of us. :)

Thursday, January 2, 2014

Can you touch my heart, again?

   Pernahkah kau merasa kosong?
   Suatu saat di mana kau sangat membutuhkan kehadiran seseorang di sampingmu hanya untuk memastikan bahwa perasaannya masih sama seperti dulu, masih menyayangi, memastikan bahwa perasaanmu baik-baik saja. Menghibur dirimu dengan kalimat-kalimat penenang seperti yang dulu sering dilakukan. Mengatakan bahwa kau adalah pilihan yang tepat.
Setiap saat tidak selalu hanya untuk bercanda, tertawa gembira. Hati juga perlu disentuh, didamaikan, dicairkan. Jangan pikir itu manja atau cengeng. Percayalah, itu penting. Karena pada dasarnya setiap manusia memiliki perasaan, memiliki hati, yang sangat rapuh. Perlu diteguhkan berkali-kali. Dipoles, dipelitur, dijaga dengan baik, penuh kasih sayang. Wajah mungkin saja tersenyum, tapi hati tahu persis kekosongan yang sedang terjadi.
Tahu apa yang terjadi saat hati terasa kosong? Kau akan menangis. Berlebihan mungkin. Tapi memang itu kenyataannya kalau mencoba bertahan dalam suatu keadaan yang tidak jelas, tanpa kepastian. Kau hanya bisa bertanya-tanya, apakah orang itu masih menyayangi, peduli, dan mengingatmu. Apakah orang itu hanya mementingkan yang tampak pada mata saja, tanpa melibatkan perasaan? Lelaki mungkin identik dengan mata, perempuan identik dengan perasaan. Berbeda, tapi inilah titik saling melengkapinya.
Menurut kebutuhan psikologi, pada umumnya perempuan selalu membututhkan perasaan aman, nyaman, dicintai, diperhatikan, dan dihibur. Perempuan dilahirkan seperti demikian, apalagi bagi seorang yang besar tanpa kasih sayang dari ayahnya.
Timbal balik. Segalanya harus dua arah. Komunikasi yang baik. Saling melengkapi. Membalas kasih sayang.
Aku tidak tahu apa saja yang kau butuhkan. Kasih sayang sudah diberikan secara total. Perhatian, waktu, dan ingatan juga sudah dibagikan dan secara fisik pun aku ada di sampingmu. Tapi apakah itu semua berarti untukmu? Aku tak pernah melihat rasa syukur darimu akan semua itu. Aku jarang melihat balasan rasa sayangmu untukku. Bahkan seringkali kau lupa atau merasa terbebani saat aku meminta hal-hal sederhana, yang bukan untuk kebaikanku, tapi untuk kebaikan bersama. Apakah sulit? Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku? Apakah aku berarti untukmu?
Tengok sekitarmu, mereka bergandengan tangan dengan bahagia.
Apakah kau demikian?
Mungkin kau merasa risih karena aku seringkali mempertanyakan perasaanmu terhadapku. Tapi sewajarnya, kata-kata sayang akan terlontar dengan sendirinya bila seseorang sungguh menyayangi kekasihnya. Tanpa perlu diminta, tanpa perlu ditanya.
Untuk apa malu? Kekasihmu adalah orang yang kau pilih untuk jalan berdampingan denganmu, menemanimu. Kalau kau malu untuk sekedar gandeng atau mengucapkan cinta, berarti kau malu akan pilihanmu sendiri. Jangan menyesal di kemudian hari bila orang itu telah pergi. Kebanyakan orang menyesal karena terlambat mengucapkan atau menunjukkan kasih sayangnya kepada orang yang dicintainya.
Coba pikir baik-baik.
Apa yang belum kau berikan?
Jangan pernah berpikir tentang apa yang kau dapatkan atau yang orang lain berikan untukmu sebab seseorang akan mendapatkan bila ia mau memberi.
Semoga kau mengerti dan menanggapi maksudku.

.
Dear.. I'm still loving you.
Can you touch my heart, again?