Showing posts with label misery. Show all posts
Showing posts with label misery. Show all posts

Sunday, September 14, 2014

No More Gift to be Given



Since my Mom has gone, I hate loneliness so much, especially when I’m having my PMS (Pra Menstrual Syndrome). I used to have a physical PMS, not the emotional one. It’s such a fluctuation of hormones in my body, but you should believe me, this one hurts so much. I can just cry by a simple sad thing or by remembering my Mom. I write the blue feelings here.


I still feel close to Mom, it feels like yesterday. Time flies, it’s almost 6 months. It means that it is also almost her birthday. I remember last year in these days I was thinking what gift to give to Mom. I was so happy just to buy nice things for Mom. I couldn’t wait till the day come. I had prepared everything well, I wrapped her gift sweetly with a letter inside it. I decided to buy mom a new lipstick because she was always proud with one of her expensive lipstick that had been bought about 10 years ago. She was funny, she was proud for simple unnecessary thing. That makes Mom sometimes funny to me.


This month, I look at the calendar and see her name on the box of 24. I feel sad. So do my sister. There are no more gifts to be thought about, to be brought, to be wrapped, and to be given. No more moment to be waited, such as to see her surprised, laugh, pretending not knowing, and other unexpected things.
...

So, I cry, cry so hard.




Ps. you may think that I am too melancholic or weak. It’s okay.

We had lived together for about 19 years, the last 10 years we spent just for both of us in a roof. How can I not feel losing her?
 

Sunday, March 2, 2014

Kapan Mentari Bersinar?



         Kenyataan sulit dipercaya saat penderitaan selalu datang bertubi-tubi. Kapan mentari benar-benar bersinar untukku?

Apa yang harus kulakukan ketika tahu waktu yang dimilikinya tinggal sebentar lagi?

Apakah memang benar tidak ada jalan lain yang dapat dilakukan?

Mengapa ini harus terjadi kepadanya? Ia sudah terlalu banyak menderita dan belum banyak kebahagiaan yang dikecapnya. Aku sendiri masih terlalu muda, aku belum sempat membuatnya bangga tapi mengapa ini terjadi kepadanya? Mengapa hidupnya terus menderita dari awal hingga akhir? Apakah tidak ada lagi kesempatan untuk bahagia, meskipun sekali saja?


         Terlalu banyak pertanyaan, untuk saat ini, semua menguap percuma.


         Ia tak seperti dulu lagi. Aku sudah lama tidak makan bekal buatannya. Aku tidak ingat lagi kapan terakhir kami bepergian bersama. Aku merindukan senyum dan tawanya, saat kita bercanda bersama. Aku tidak tahu apakah janjinya mengajariku membuat kue dapat tercapai. Sekarang yang kulihat hanya kesedihan di wajahnya, mendengarnya berkeluh setiap hari, kadang ia melamun, tatapannya kosong, dan itu semua membuatku semakin menderita pula.

        Beberapa hari ini, mataku terus saja basah. Aku merasa sesak melewati saat-saat seperti ini. Rasanya waktu bergulir sangat lambat. Aku tidak tahu apa yang sebaiknya aku lakukan. Sebentar lagi aku akan menghadapi ujian, sementara untuk saat ini hanya aku yang bisa berada di sisinya.


         Semua penuh ketidakpastian, ketidakjelasan, kebingungan. Apakah aku bisa menolong diriku sendiri?